Regresi Linear secara Matematis: Geometri Kuadrat Terkecil, Teorema Gauss–Markov, Inferensi, dan Regularisasi
Regresi Linear secara
Matematis: Geometri Kuadrat Terkecil, Teorema Gauss–Markov, Inferensi, dan
Regularisasi
Oleh Andi Illa Erviani Nensi | Magister Statistika dan Sains Data
Artikel ketiga dalam seri: (1) Statistik Deskriptif:
Fondasi Matematis untuk Memahami Struktur Data; (2) Dari Deskripsi ke
Inferensi; (3) Regresi Linear secara Matematis
Abstrak
Regresi linear
sering diajarkan sebagai resep: pasang garis, baca koefisien, lihat nilai-p.
Artikel ini membahasnya sebagai objek matematis yang utuh. Penaksir kuadrat
terkecil diturunkan, ditafsirkan secara geometris sebagai proyeksi ortogonal di
ruang ℝⁿ, dan dikarakterisasi sifat samplingnya, termasuk bukti teorema
Gauss–Markov dan distribusi eksak di bawah normalitas. Pembahasan kemudian
bergerak ke sisi yang jarang disentuh kuliah pengantar: kondisi numerik dan
dekomposisi nilai singular, diagnostik berbasis leverage, galat baku robust
terhadap heteroskedastisitas, regularisasi (ridge dan lasso) sebagai
pengelolaan trade-off bias–varians,
kaitan dengan kemungkinan maksimum dan regresi median, serta bias variabel
terabaikan sebagai batas antara prediksi dan inferensi kausal. Seluruh konsep
diikat oleh satu contoh numerik berukuran kecil yang dapat dihitung tangan, dan
oleh satu benang merah dari dua artikel sebelumnya: rata-rata sampel adalah kasus paling sederhana dari regresi.
Kata kunci: kuadrat
terkecil, proyeksi ortogonal, Gauss–Markov, matriks topi, multikolinearitas,
regularisasi, bias variabel terabaikan
1. Pendahuluan
Artikel pertama
dalam seri ini menunjukkan bahwa rata-rata sampel adalah solusi dari masalah
meminimumkan jumlah kuadrat selisih, dan bahwa median adalah solusi untuk
jumlah selisih absolut. Artikel kedua menunjukkan bagaimana kedua penaksir itu
memiliki distribusi sampling, galat baku, dan interval kepercayaan. Regresi
linear adalah perluasan alamiah dari kedua gagasan tersebut: alih-alih menaksir
satu konstanta yang meringkas data, kita menaksir fungsi dari kovariat yang meringkas rata-rata bersyarat dari
respons.
Bagi pembaca
dengan latar belakang matematika, regresi linear menarik karena tiga alasan.
Pertama, seluruh teorinya berdiri di atas aljabar linear yang bersih: proyeksi,
ruang kolom, nilai singular. Kedua, sifat-sifat intinya (ketaktakbiasan,
Gauss–Markov, distribusi t dan F) dapat dibuktikan secara lengkap dengan alat
yang elementer. Ketiga, regresi linear adalah prototipe dari hampir semua
metode pemodelan lanjutan: model linear terampat, regresi terpenalti, proses
Gauss, bahkan jaringan saraf pada lapisan terakhirnya. Memahami regresi linear
secara mendalam berarti memiliki bahasa untuk memahami semuanya.
Struktur
artikel: Bagian 2 menetapkan model dan asumsi. Bagian 3 menurunkan penaksir dan
tafsir geometrisnya. Bagian 4 membahas sifat sampling dan inferensi. Bagian 5
menyajikan contoh numerik terpadu. Bagian 6 dan 7 membahas aspek numerik dan
diagnostik. Bagian 8 membahas regularisasi. Bagian 9 dan 10 mengaitkan regresi
dengan kemungkinan maksimum dan kausalitas. Bagian 11 menyorot praktik sains
data, dan Bagian 12 menyimpulkan.
Notasi. Vektor bersifat
kolom. Transpos dinyatakan dengan prima, misalnya X′. Iₙ adalah matriks
identitas berukuran n × n, dan ‖·‖ adalah norma Euklides. Untuk matriks
simetris A dan B, A ⪰ B berarti A − B positif semidefinit.
2. Formulasi Model dan Asumsi
Misalkan
terdapat n pengamatan. Model regresi linear berganda menyatakan:
y = Xβ + ε
dengan y ∈ ℝⁿ
vektor respons, X matriks desain berukuran n × p, β ∈ ℝᵖ vektor parameter, dan
ε ∈ ℝⁿ vektor galat. Bila model memiliki intersep, kolom pertama X adalah
vektor satu. “Linear” merujuk pada linearitas dalam parameter β, bukan dalam
kovariat asli; regresi polinomial, spline, dan fungsi basis lain tetap termasuk
model linear karena kolom X boleh berupa transformasi nonlinear dari kovariat.
Hasil-hasil
dalam artikel ini bergantung pada lima asumsi berikut. Memisahkannya dengan
jelas penting, karena tiap kesimpulan hanya memerlukan sebagian dari asumsi
tersebut.
•
(A1) Spesifikasi linear: y = Xβ + ε.
•
(A2) Peringkat penuh: rank(X) = p ≤ n,
sehingga X′X dapat dibalik.
•
(A3) Eksogenitas ketat: E[ε | X] = 0,
atau setara E[y | X] = Xβ. Regresi adalah model bagi rata-rata bersyarat.
•
(A4) Galat sferis: Var(ε | X) = σ²Iₙ,
yakni homoskedastisitas dan galat tak berkorelasi.
•
(A5) Normalitas: ε | X ~ N(0, σ²Iₙ).
Peta kebutuhan
asumsi: ketaktakbiasan memerlukan (A1)–(A3); teorema Gauss–Markov memerlukan
(A1)–(A4); distribusi eksak uji t dan F memerlukan (A1)–(A5). Tanpa (A5),
pendekatan asimtotik tetap dimungkinkan, sebagaimana dibahas pada Bagian 4.4.
3. Penaksir Kuadrat Terkecil
dan Geometrinya
3.1 Penurunan
Penaksir kuadrat
terkecil biasa (ordinary least squares,
OLS) meminimumkan jumlah kuadrat galat S(β) = ‖y − Xβ‖². Gradiennya adalah
−2X′(y − Xβ). Menyamakannya dengan nol menghasilkan persamaan normal:
X′X β = X′y
Di bawah (A2),
X′X positif definit, sehingga Hessian 2X′X positif definit, solusinya unik, dan
merupakan minimum global:
β̂ = (X′X)⁻¹ X′y
Nilai
terprediksi dan residu berturut-turut adalah ŷ = Xβ̂ dan e = y − ŷ.
3.2 Tafsir geometris: proyeksi
ortogonal
Persamaan normal
dapat ditulis ulang sebagai X′(y − Xβ̂) = X′e = 0. Residu ortogonal terhadap setiap kolom X. Dengan demikian ŷ adalah
proyeksi ortogonal y pada ruang kolom C(X), subruang berdimensi p di ℝⁿ, dan e
adalah komponen y yang tegak lurus terhadap C(X). Penaksiran OLS, pada
dasarnya, adalah mencari titik di C(X) yang paling dekat dengan y.
Operator
proyeksinya adalah matriks topi (hat matrix):
H = X(X′X)⁻¹X′, sehingga ŷ
= Hy dan e = (Iₙ − H)y = My
dengan M = Iₙ −
H. Sifat-sifat berikut menjadi dasar hampir semua turunan selanjutnya:
•
H dan M simetris dan idempoten
(H² = H, M² = M), sehingga keduanya proyeksi ortogonal.
•
HX = X dan MX = 0: H
mempertahankan ruang kolom, M meniadakannya.
•
HM = 0: komponen terproyeksi
dan residu saling ortogonal.
•
Nilai eigen H hanya 0 atau 1,
sehingga tr(H) = rank(H) = p dan tr(M) = n − p.
Elemen diagonal
h_ii disebut leverage pengamatan
ke-i. Karena H idempoten, 0 ≤ h_ii ≤ 1 dan Σᵢ h_ii = p. Jadi rata-rata leverage
adalah p/n, dan pengamatan dengan h_ii jauh di atas p/n memiliki pengaruh
potensial besar pada garis regresi (Bagian 7).
3.3 Dekomposisi variasi dan R²
Dengan teorema
Pythagoras pada ŷ ⟂ e: ‖y‖² = ‖ŷ‖² + ‖e‖². Bila model memiliki intersep,
rata-rata residu nol dan identitas ini berlaku pada skor terpusat:
SST = SSR + SSE, dengan
SST = Σ(yᵢ − ȳ)², SSR = Σ(ŷᵢ − ȳ)², SSE = Σeᵢ²
Koefisien
determinasi R² = SSR/SST = 1 − SSE/SST adalah proporsi variasi yang dijelaskan
model; secara ekuivalen, R² adalah kuadrat korelasi sampel antara y dan ŷ, atau
kuadrat kosinus sudut antara y terpusat dan proyeksinya. Dua catatan
kehati-hatian: R² tidak pernah turun ketika regresor ditambahkan (ruang kolom
yang lebih besar tidak mungkin lebih jauh dari y), sehingga ia tidak layak
dipakai sendiri untuk memilih model; dan R² tinggi tidak menjamin spesifikasi
yang benar atau kemampuan prediksi di luar sampel. Versi terkoreksi, R²_adj = 1
− [SSE/(n − p)] / [SST/(n − 1)], menghukum kompleksitas, tetapi bukan pengganti
validasi luar sampel.
3.4 Kasus khusus yang mengikat
seri artikel
Jika X hanya
berisi kolom satu, yaitu model y = μ + ε, maka X′X = n dan β̂ = (1/n) Σyᵢ = ȳ.
Matriks topinya H = (1/n)11′ memetakan y ke vektor yang seluruh elemennya ȳ.
SSE = Σ(yᵢ − ȳ)², dan penaksir varians SSE/(n − p) dengan p = 1 menjadi SSE/(n
− 1): koreksi Bessel dari artikel pertama muncul sebagai kasus khusus dari
tr(M) = n − p. Mean sampel adalah regresi pada konstanta, dan derajat kebebasan
n − 1 adalah dimensi ruang residu setelah satu dimensi diambil oleh konstanta.
3.5 Teorema Frisch–Waugh–Lovell
Bagi X menjadi
dua blok, X = [X₁ X₂], dengan koefisien (β₁, β₂). Misalkan M₁ = I −
X₁(X₁′X₁)⁻¹X₁′ adalah matriks yang meniadakan pengaruh X₁. Maka:
β̂₂ = (X₂′M₁X₂)⁻¹ X₂′M₁ y
Artinya,
koefisien β̂₂ sama dengan hasil meregresikan residu y terhadap X₁ pada residu
kolom X₂ terhadap X₁. Inilah makna eksak dari frasa “pengaruh X₂ dengan
mengendalikan X₁”: koefisien regresi berganda mengukur hubungan setelah bagian
dari X₂ yang dapat dijelaskan oleh X₁ disingkirkan. Teorema ini juga menjadi
kunci penurunan faktor inflasi varians pada Bagian 6.
4. Sifat Sampling dan Inferensi
4.1 Rata-rata dan varians
Substitusi y =
Xβ + ε memberi β̂ = β + (X′X)⁻¹X′ε. Di bawah (A1)–(A3), E[β̂ | X] = β, sehingga
OLS tak bias. Dengan tambahan (A4):
Var(β̂ | X) = σ² (X′X)⁻¹
Untuk model
konstanta saja, rumus ini menghasilkan σ²/n, kembali ke galat baku rata-rata
sampel pada artikel kedua.
4.2 Teorema Gauss–Markov
Teorema. Di bawah
(A1)–(A4), untuk setiap penaksir β̃ yang linear dalam y dan tak bias, Var(β̃ |
X) − Var(β̂ | X) positif semidefinit. Akibatnya, untuk setiap vektor c, c′β̂
memiliki varians terkecil di antara penaksir linear tak bias bagi c′β. Dengan
kata lain, OLS adalah best linear
unbiased estimator (BLUE).
Bukti. Tulis β̃ = Cy
dengan C berukuran p × n, dan misalkan D = C − (X′X)⁻¹X′. Ketaktakbiasan untuk
setiap β mensyaratkan CX = I, yaitu I + DX = I, sehingga DX = 0. Maka:
Var(β̃) = σ² CC′ = σ² [
(X′X)⁻¹ + (X′X)⁻¹X′D′ + DX(X′X)⁻¹ + DD′ ] = σ² [ (X′X)⁻¹ + DD′ ]
karena suku
silang bernilai nol akibat DX = 0. Karena DD′ selalu positif semidefinit,
Var(β̃) − Var(β̂) = σ²DD′ ⪰ 0. ∎
Hal yang sering
terlewat: teorema ini tidak mensyaratkan normalitas, tetapi membatasi diri pada
penaksir linear dan tak bias. Penaksir bias (misalnya ridge)
atau tak linear (misalnya median regresi) dapat mengalahkan OLS dalam MSE atau
ketahanan, sebagaimana ditunjukkan pada Bagian 8 dan 9.
4.3 Penaksiran σ² dan
distribusi eksak
Residu dapat
ditulis e = My = Mε karena MX = 0. Maka SSE = e′e = ε′Mε, dan:
E[SSE | X] = σ² tr(M) = σ²
(n − p)
Sehingga s² =
SSE/(n − p) adalah penaksir tak bias bagi σ². Perhatikan keselarasannya dengan
koreksi Bessel: pembagi n − p adalah dimensi ruang residu.
Bila (A5)
berlaku, tiga fakta mengikuti sifat proyeksi ortogonal pada vektor normal:
1.
β̂ | X ~ N(β, σ²(X′X)⁻¹).
2.
SSE/σ² ~ χ² dengan n − p
derajat kebebasan.
3.
β̂ dan SSE saling bebas, karena
Hε dan Mε adalah proyeksi ke subruang ortogonal dari vektor normal sferis.
Dari ketiganya
diperoleh statistik uji eksak. Untuk koefisien ke-j, dengan SE(β̂ⱼ) = s
√[(X′X)⁻¹ⱼⱼ]:
(β̂ⱼ − βⱼ) / SE(β̂ⱼ) ~ t
dengan n − p derajat kebebasan
Untuk menguji q
kendala linear (misalnya q koefisien sekaligus nol), uji F membandingkan jumlah
kuadrat galat model terkendala (SSE_R) dan tak terkendala (SSE_U):
F = [ (SSE_R − SSE_U) / q
] / [ SSE_U / (n − p) ] ~ F dengan (q, n − p) derajat kebebasan
Untuk q = 1, F =
t², sehingga kedua uji setara.
4.4 Tanpa normalitas:
pendekatan asimtotik
Bila (A5) tidak
berlaku tetapi galat i.i.d. dengan varians hingga dan X′X/n → Q positif
definit, Teorema Limit Pusat untuk jumlah terboboti memberikan √n (β̂ − β) →
N(0, σ²Q⁻¹) dalam distribusi. Uji dan interval berbasis t dan F tetap valid
secara asimtotik, sehingga untuk sampel besar normalitas galat bukan syarat
penting. Kualitas pendekatannya, seperti pada artikel kedua, bergantung pada
kemencengan dan ekor distribusi galat serta pada ada-tidaknya observasi dengan
leverage ekstrem.
4.5 Interval untuk rata-rata
respons dan interval prediksi
Untuk titik
kovariat baru x₀, ada dua pertanyaan yang berbeda dan sering tertukar:
Interval kepercayaan untuk
E[y | x₀]: x₀′β̂ ± t · s · √( x₀′(X′X)⁻¹x₀ )
Interval prediksi untuk y₀
yang baru: x₀′β̂ ± t · s · √( 1 + x₀′(X′X)⁻¹x₀ )
dengan t =
t_{n−p; 1−α/2}. Interval prediksi selalu lebih lebar karena ia memuat dua
sumber ketidakpastian: galat penaksiran garis (varians x₀′(X′X)⁻¹x₀ · σ²) dan
galat individual ε₀ (varians σ²) yang tidak menyusut meski n bertambah.
Keduanya melebar saat x₀ menjauh dari pusat data, karena x₀′(X′X)⁻¹x₀ membesar;
inilah dasar kuantitatif dari peringatan bahwa ekstrapolasi berisiko.
5. Contoh Numerik Terpadu
Agar seluruh
konsep di atas dapat diperiksa dengan tangan, perhatikan lima pengamatan
berikut: x = (1, 2, 3, 4, 5) dan y = (2, 4, 5, 4, 5). Modelnya y = β₀ + β₁x +
ε, sehingga n = 5 dan p = 2.
5.1 Penaksiran
Matriks desain
memiliki kolom satu dan kolom x. Diperoleh:
X′X = [[5, 15], [15, 55]],
X′y = [20, 66], det(X′X) = 5·55 − 15² = 50
(X′X)⁻¹ = (1/50)·[[55,
−15], [−15, 5]]
Maka β̂ =
(1/50)·[55·20 − 15·66, −15·20 + 5·66] = (1/50)·[110, 30] = [2,2; 0,6]. Garis
regresinya ŷ = 2,2 + 0,6x. Hasil yang sama diperoleh dari rumus klasik: β̂₁ =
S_xy/S_xx = 6/10 = 0,6 dan β̂₀ = ȳ − β̂₁x̄ = 4 − 0,6·3 = 2,2.
|
x |
y |
ŷ |
residu e |
leverage h |
|
1 |
2 |
2,8 |
−0,8 |
0,6 |
|
2 |
4 |
3,4 |
0,6 |
0,3 |
|
3 |
5 |
4,0 |
1,0 |
0,2 |
|
4 |
4 |
4,6 |
−0,6 |
0,3 |
|
5 |
5 |
5,2 |
−0,2 |
0,6 |
Pemeriksaan
sifat-sifat teoretis: jumlah residu = 0 (karena ada intersep); Σxᵢeᵢ = −0,8 +
1,2 + 3,0 − 2,4 − 1,0 = 0, sesuai X′e = 0; dan jumlah leverage = 0,6 + 0,3 +
0,2 + 0,3 + 0,6 = 2 = p, sesuai tr(H) = p. Leverage dihitung dari hᵢ = 1/n + (xᵢ
− x̄)²/S_xx.
5.2 Dekomposisi variasi
SST = Σ(yᵢ − 4)²
= 4 + 0 + 1 + 0 + 1 = 6. SSE = 0,64 + 0,36 + 1,00 + 0,36 + 0,04 = 2,4, sehingga
SSR = 6 − 2,4 = 3,6 dan R² = 0,6.
Perhatikan bahwa SST = 6 adalah SSE model yang hanya berisi konstanta (yaitu
mean ȳ = 4, kasus Bagian 3.4), sehingga regresi menurunkan jumlah kuadrat galat
dari 6 menjadi 2,4.
5.3 Inferensi
Penaksir varians
galat adalah s² = SSE/(n − p) = 2,4/3 = 0,8, atau s ≈ 0,894. Matriks kovarians
koefisien adalah s²(X′X)⁻¹, sehingga:
•
Var(β̂₁) = 0,8·5/50 = 0,08,
atau SE(β̂₁) ≈ 0,283.
•
Var(β̂₀) = 0,8·55/50 = 0,88,
atau SE(β̂₀) ≈ 0,938.
•
Kovarians(β̂₀, β̂₁) =
−0,8·15/50 = −0,24. Tanda negatif mencerminkan bahwa garis dengan kemiringan
lebih besar harus memiliki intersep lebih kecil agar tetap melewati pusat data
(x̄, ȳ).
Statistik uji
untuk H₀: β₁ = 0 adalah t = 0,6/0,283 ≈ 2,12 dengan 3 derajat kebebasan. Nilai
kritis dua sisi t₃ adalah 2,353 pada taraf 10% dan 1,638 pada taraf 20%,
sehingga nilai-p terletak antara 0,10 dan 0,20. Interval kepercayaan 95% untuk
β₁ adalah 0,6 ± 3,182·0,283 ≈ (−0,30;
1,50), yang memuat nol. Uji F untuk kendala yang sama memberikan F = [(6 −
2,4)/1]/[2,4/3] = 4,5 = t², dibandingkan nilai kritis F(1, 3) = 10,13 pada α =
5%.
Bukti empiris
bahwa R² = 0,6 tidak otomatis berarti “signifikan”: dengan n sekecil ini, garis
yang “menjelaskan 60% variasi” masih konsisten dengan kemiringan nol.
5.4 Rata-rata respons versus
prediksi
Di titik x₀ = 3
(pusat data), x₀′(X′X)⁻¹x₀ = 1/5 = 0,2, sehingga SE rata-rata respons =
0,894·√0,2 ≈ 0,4. Di titik x₀ = 6 (ekstrapolasi), ŷ₀ = 2,2 + 0,6·6 = 5,8 dan
x₀′(X′X)⁻¹x₀ = 1/5 + (6 − 3)²/10 = 1,1. Maka:
•
Interval kepercayaan 95% untuk
E[y | x = 6]: 5,8 ± 3,182·0,894·√1,1 ≈ 5,8 ± 2,99, yaitu (2,82; 8,79).
•
Interval prediksi 95% untuk y
baru: 5,8 ± 3,182·0,894·√2,1 ≈ 5,8 ± 4,12, yaitu (1,68; 9,92).
Interval di x₀ =
6 jauh lebih lebar daripada di pusat data, dan interval prediksi lebih lebar
lagi, persis seperti prediksi teori pada Bagian 4.5.
6. Kondisi Numerik,
Multikolinearitas, dan Dekomposisi Nilai Singular
6.1 Multikolinearitas dan
faktor inflasi varians
Dengan teorema
Frisch–Waugh–Lovell, varians koefisien ke-j dapat ditulis:
Var(β̂ⱼ | X) = σ² / [ (1 −
Rⱼ²) · Σᵢ (xᵢⱼ − x̄ⱼ)² ]
dengan Rⱼ²
adalah koefisien determinasi dari regresi kolom ke-j terhadap kolom-kolom
lainnya. Faktor VIFⱼ = 1/(1 − Rⱼ²) menyatakan seberapa besar varians membengkak
akibat kolinearitas. Dua regresor dengan korelasi 0,95 menghasilkan VIF = 1/(1
− 0,9025) ≈ 10,3, yaitu galat baku sekitar 3,2 kali lebih besar daripada bila
regresor tersebut ortogonal.
Dua catatan
penting. Pertama, kolinearitas tidak melanggar asumsi apa pun selama X
berperingkat penuh: OLS tetap tak bias dan tetap BLUE; yang terpengaruh adalah
presisi koefisien individual, bukan kualitas prediksi dalam ruang yang
dilingkupi data. Kedua, kolinearitas sempurna (misalnya semua variabel boneka
dari suatu kategori beserta intersep) melanggar (A2) dan membuat X′X singular;
inilah jebakan variabel boneka yang klasik.
6.2 Perspektif nilai singular
Dekomposisi
nilai singular X = UDV′, dengan U (n × p) berkolom ortonormal, D = diag(d₁ ≥ …
≥ dₚ > 0), dan V (p × p) ortogonal, memberikan bentuk yang lebih jernih:
β̂ = V D⁻¹ U′y, Var(β̂) =
σ² V D⁻² V′
Varians pada
arah singular ke-k sebanding dengan 1/dₖ². Arah dengan nilai singular kecil,
yaitu arah di mana data hampir tidak bervariasi, adalah arah di mana koefisien
tertaksir sangat tidak pasti. Bilangan kondisi κ(X) = d₁/dₚ merangkum tingkat
ketidakstabilan ini, dan akan menjadi kunci pada regularisasi di Bagian 8.
6.3 Mengapa tidak memecahkan
persamaan normal secara langsung
Secara
komputasi, membentuk X′X lalu membalikkannya berbahaya, karena κ(X′X) = κ(X)².
Bila κ(X) = 10⁵, maka κ(X′X) = 10¹⁰, dan dalam aritmetika presisi ganda
(sekitar 16 digit) hanya tersisa sekitar enam digit bermakna. Implementasi yang
baik memakai dekomposisi QR (X = QR, lalu menyelesaikan Rβ = Q′y) atau SVD,
yang hanya bergantung pada κ(X). Memusatkan dan menskalakan kovariat sebelum
penaksiran juga memperbaiki kondisi numerik secara signifikan, terutama bila
kolom berskala sangat berbeda atau berisi pangkat tinggi.
7. Diagnostik Model
7.1 Leverage, residu
terstudentisasi, dan pengaruh
Residu mentah eᵢ
tidak berdistribusi identik: Var(eᵢ) = σ²(1 − hᵢ). Karena itu residu yang
dibandingkan antarpengamatan sebaiknya distandarkan:
rᵢ = eᵢ / ( s √(1 − hᵢ) )
Pengamatan
berpengaruh adalah pengamatan yang bila dibuang mengubah hasil secara berarti.
Jarak Cook menggabungkan residu dan leverage:
Dᵢ = (rᵢ² / p) · hᵢ / (1 −
hᵢ)
Pada contoh
Bagian 5, rᵢ berturut-turut adalah −1,41; 0,80; 1,25; −0,80; −0,35, dan jarak
Cook adalah 1,50; 0,14; 0,20; 0,14; 0,09. Pengamatan pertama (x = 1) memiliki
leverage tertinggi (bersama pengamatan kelima) dan residu terstandar terbesar,
sehingga menjadi yang paling berpengaruh, dengan D₁ = 1,5 yang melebihi batas
heuristik 1. Jika pengamatan itu dibuang, garis regresi akan berubah cukup
besar. Dua pelajaran: leverage tinggi saja belum berarti berpengaruh
(pengamatan kelima punya leverage sama tetapi residu kecil), dan pada n sekecil
ini satu titik dapat mendikte garis.
7.2 Validasi silang
tinggalkan-satu dalam bentuk tertutup
Untuk OLS,
residu tinggalkan-satu dapat dihitung tanpa pemasangan ulang: eᵢ/(1 − hᵢ).
Jumlah kuadratnya disebut PRESS. Pada contoh, residu tinggalkan-satu adalah
−2,00; 0,86; 1,25; −0,86; −0,50, sehingga PRESS ≈ 7,28, jauh lebih besar
daripada SSE = 2,4. Galat prediksi luar sampel (dalam arti tinggalkan-satu)
rata-rata 7,28/5 ≈ 1,46 per pengamatan, tiga kali lebih besar daripada galat
dalam sampel 2,4/5 = 0,48. Pembanding yang adil adalah model hanya-konstanta
yang juga dievaluasi tinggalkan-satu: prediksi untuk pengamatan ke-i memakai
mean dari empat pengamatan lainnya, sehingga residunya (yᵢ − ȳ)·n/(n − 1) dan
PRESS₀ = 6·(5/4)² = 9,375. Maka R² prediktif = 1 − 7,28/9,375 ≈ 0,22, jauh
lebih rendah daripada R² dalam sampel sebesar 0,6. Selisih antara 0,6 dan 0,22
ini adalah ukuran konkret dari optimisme galat dalam sampel, yang menjadi dasar
semua teknik validasi pada pembelajaran mesin.
7.3 Heteroskedastisitas dan
galat baku robust
Bila (A4) gagal
karena Var(εᵢ | X) = σᵢ² berbeda-beda, OLS tetap tak bias tetapi galat baku
klasik menjadi tidak valid. Penaksir kovarians sandwich (Eicker–Huber–White) tidak memerlukan model bagi σᵢ²:
Var̂(β̂) = (X′X)⁻¹ [ Σᵢ eᵢ²
xᵢxᵢ′ ] (X′X)⁻¹ (HC0)
Varian HC3
membagi eᵢ² dengan (1 − hᵢ)² dan lebih andal pada sampel kecil. Untuk
kemiringan pada contoh kita, SE klasik adalah 0,283, SE HC0 adalah 0,186, dan
SE HC3 adalah 0,430. Perbedaan besar ini memperlihatkan dua hal: HC0 cenderung
terlalu optimistis pada sampel kecil (ia mengabaikan bahwa residu pada titik
berleverage tinggi menyusut), sedangkan HC3 mengoreksinya secara agresif. Galat
baku robust adalah pendekatan asimtotik, bukan obat untuk n kecil.
7.4 Pemeriksaan lain
Diagnostik
standar lain meliputi plot residu terhadap nilai terprediksi (untuk
nonlinearitas dan heteroskedastisitas), plot Q–Q residu terstudentisasi (untuk
kenormalan dan ekor berat), uji autokorelasi untuk data berurutan, dan DFBETAS
untuk menilai pengaruh tiap pengamatan pada tiap koefisien. Diagnostik bersifat
eksploratif: ia membantu memutuskan apakah suatu asumsi masuk akal, bukan
membuktikan bahwa asumsi tersebut benar.
8. Regularisasi: Mengelola
Trade-off Bias–Varians
Gauss–Markov
menjamin bahwa OLS terbaik di antara penaksir linear tak bias. Namun artikel kedua telah menunjukkan bahwa menerima
sedikit bias dapat menurunkan MSE. Pada regresi, kondisi di mana hal ini paling
menguntungkan adalah ketika X hampir kolinear (nilai singular kecil), atau
ketika p mendekati atau melampaui n.
8.1 Regresi ridge
Ridge
menambahkan penalti kuadrat pada koefisien:
β̂_λ = argmin_β { ‖y −
Xβ‖² + λ‖β‖² } = (X′X + λI)⁻¹ X′y, λ > 0
Untuk λ > 0,
matriks X′X + λI selalu dapat dibalik, bahkan ketika p > n. Dalam SVD, nilai
terprediksinya adalah ŷ_λ = Σₖ uₖ [ dₖ²/(dₖ² + λ) ] uₖ′y. Setiap komponen utama
diskalakan oleh faktor dₖ²/(dₖ² + λ) ≤ 1: komponen dengan nilai singular besar
hampir tidak disusutkan, sedangkan komponen dengan nilai singular kecil (arah
yang paling tidak pasti pada Bagian 6.2) disusutkan paling kuat. Derajat
kebebasan efektif adalah tr(H_λ) = Σₖ dₖ²/(dₖ² + λ) ≤ p, yang menurun dari p
(pada λ = 0) menuju 0 (pada λ → ∞).
Di bawah model
linear dengan galat sferis, β̂_λ bias: E[β̂_λ] = β − λ(X′X + λI)⁻¹β, tetapi
variansnya lebih kecil daripada OLS. Hoerl dan Kennard (1970) membuktikan bahwa
selalu ada λ > 0 sehingga MSE total ridge lebih kecil daripada OLS. Dengan
kata lain, OLS tidak dapat diterima (inadmissible)
di antara penaksir sembarang pada kriteria MSE, meskipun ia BLUE.
Ilustrasi kasus ortonormal. Bila X′X = I dengan satu koefisien, maka β̂_λ = β̂/(1 + λ).
Variansnya σ²/(1 + λ)² dan bias kuadratnya λ²β²/(1 + λ)², sehingga:
MSE(λ) = (σ² + λ²β²) / (1
+ λ)²
Menurunkan
terhadap λ dan menyamakan dengan nol memberikan λ* = σ²/β², dengan MSE minimum
σ²β²/(β² + σ²), yang selalu lebih kecil daripada σ² (MSE OLS). Untuk σ² = 1 dan
β = 1, λ* = 1 dan MSE turun dari 1 menjadi 0,5. Perhatikan satu kendala
praktis: λ* bergantung pada β yang tidak diketahui, sehingga λ dalam praktik
dipilih lewat validasi silang.
Tafsir Bayes. Ridge adalah
modus posterior (sekaligus rata-rata posterior) bila galat normal dan prior β ~
N(0, τ²I), dengan λ = σ²/τ². Regularisasi bukan sekadar trik komputasi: ia
setara dengan memasukkan keyakinan awal bahwa koefisien tidak terlalu besar.
8.2 Lasso
Lasso mengganti
penalti kuadrat dengan penalti norma-ℓ₁ (Tibshirani, 1996):
β̂_lasso = argmin_β { ½‖y
− Xβ‖² + λ‖β‖₁ }
Berbeda dengan
ridge, penalti ℓ₁ menghasilkan solusi jarang
(sparse): sebagian koefisien tepat
nol. Penjelasan geometrisnya, bola ℓ₁ memiliki sudut-sudut pada sumbu koordinat
sehingga kontur galat kuadrat cenderung menyentuhnya tepat di sumbu, sedangkan
bola ℓ₂ yang mulus tidak punya sudut. Pada kasus ortonormal (X′X = I), solusi
lasso mempunyai bentuk tertutup, yaitu soft-thresholding:
β̂ⱼ = sign(zⱼ) · max( |zⱼ|
− λ, 0 ), dengan z = X′y adalah koefisien OLS
Sedangkan ridge
menyusutkan secara proporsional (zⱼ/(1 + λ)), lasso menyusutkan secara konstan
lalu memotong koefisien kecil menjadi nol. Tafsir Bayesnya adalah modus
posterior dengan prior Laplace. Catatan penting: lasso menyusutkan koefisien
besar juga (bias), tidak memiliki rumus tertutup di kasus umum (dipecahkan
dengan coordinate descent), dan pada
regresor yang berkorelasi tinggi cenderung memilih satu di antaranya secara
agak sembarang. Elastic net, yang
menggabungkan penalti ℓ₁ dan ℓ₂, mengatasi sebagian masalah tersebut.
Kebanyakan implementasi mensyaratkan kovariat distandardisasi lebih dulu,
karena penalti bergantung pada skala kolom.
8.3 Paradoks Stein
Hasil paling
mengejutkan di bidang ini: untuk X ~ N(θ, Iₚ) dengan p ≥ 3, penaksir “natural”
X (yaitu kemungkinan maksimum) tidak dapat diterima di bawah kerugian kuadrat.
Penaksir James–Stein, [1 − (p − 2)/‖X‖²]·X, memiliki risiko yang lebih kecil
untuk setiap θ (James dan Stein, 1961). Penyusutan yang bermanfaat bahkan
ketika komponen-komponennya tidak berhubungan sama sekali. Hasil ini adalah
versi paling murni dari pelajaran yang berulang di seluruh seri ini:
ketaktakbiasan bukan keutamaan, dan MSE yang rendah sering membutuhkan
keberanian menerima bias.
8.4 Dimensi tinggi
Bila p > n,
X′X singular dan persamaan normal memiliki tak hingga solusi, yang seluruhnya
menginterpolasi data. Ridge pada λ → 0⁺ memilih solusi dengan norma minimum.
Penelitian terkini tentang double descent
(Belkin dkk., 2019) menunjukkan bahwa galat uji tidak selalu mengikuti kurva U
klasik: model yang menginterpolasi dapat tetap menggeneralisasi dengan baik
pada kondisi tertentu. Ini memperkaya, bukan membatalkan, kerangka
bias–varians.
9. Regresi, Kemungkinan
Maksimum, dan Pilihan Fungsi Kerugian
Di bawah (A5),
log-kemungkinan model adalah ℓ(β, σ²) = −(n/2) log(2πσ²) − ‖y − Xβ‖²/(2σ²).
Memaksimumkan terhadap β setara dengan meminimumkan jumlah kuadrat, sehingga OLS adalah MLE bila galat normal. MLE
untuk σ² adalah SSE/n, yang bias; s² = SSE/(n − p) adalah koreksi tak bias,
ulangan dari kisah penyebut pada artikel pertama dan kedua.
Kaitan ini
menjelaskan bahwa memilih fungsi kerugian setara dengan memilih asumsi tentang
galat:
•
Galat normal → kerugian kuadrat → regresi rata-rata (OLS). Efisien di bawah normalitas, rapuh terhadap pencilan.
•
Galat Laplace → kerugian absolut → regresi median (LAD). Penaksir bagi median bersyarat, lanjutan langsung dari fakta bahwa
median meminimumkan Σ|xᵢ − a| pada artikel pertama. Tidak memiliki rumus
tertutup, tetapi dapat dipecahkan dengan pemrograman linear.
•
Regresi kuantil (Koenker dan Bassett,
1978) memperumumnya dengan kerugian ρ_τ(u) = u·(τ − 1{u < 0}), yang menaksir
kuantil bersyarat ke-τ. Dengan beberapa nilai τ, kita memperoleh gambaran
seluruh distribusi bersyarat, bukan hanya rata-ratanya.
•
Kerugian Huber berperilaku kuadratik
untuk residu kecil dan linear untuk residu besar, menjadi kompromi antara
efisiensi OLS dan ketahanan LAD (Huber, 1964).
Satu catatan
tentang ketahanan, mengacu pada konsep breakdown
point artikel pertama: OLS memiliki breakdown point 1/n. LAD dan penaksir
Huber tahan terhadap pencilan pada arah y, tetapi tidak terhadap titik dengan
leverage tinggi pada arah x. Menghadapi keduanya diperlukan penaksir
berbreakdown tinggi, seperti LTS atau MM-estimator, yang dapat mencapai
breakdown point mendekati 50%.
Kerangka
kemungkinan maksimum juga menjadi jembatan menuju model linear terampat (generalized linear models): regresi
logistik dan Poisson memiliki likelihood dari keluarga eksponensial, dan
algoritma penaksirannya (iteratively
reweighted least squares) pada hakikatnya memecahkan serangkaian masalah
kuadrat terkecil terboboti, memakai ulang seluruh aljabar proyeksi pada artikel
ini.
10. Bias Variabel Terabaikan
dan Batas Kausalitas
Asumsi (A3), E[ε
| X] = 0, adalah asumsi yang paling berat secara substantif, sekaligus yang
paling tidak dapat diuji dari data. Konsekuensi pelanggarannya dapat
dikuantifikasi untuk kasus paling sederhana. Misalkan model sebenarnya adalah y
= β₁x₁ + β₂x₂ + u dengan E[u | x₁, x₂] = 0, tetapi peneliti meregresikan y
hanya terhadap x₁. Dengan mensubstitusikan dan memakai FWL, penaksir kemiringan
konvergen ke:
β̃₁ → β₁ + β₂ · δ, dengan
δ = Cov(x₁, x₂) / Var(x₁)
yaitu koefisien
dari regresi x₂ terhadap x₁. Bias ini tidak menghilang ketika n → ∞: ia bias
sistematis, bukan variabilitas sampling. Contoh: bila β₁ = 1, β₂ = 2, dan δ =
0,5, maka β̃₁ = 1 + 2·0,5 = 2, dua kali nilai sebenarnya. Tanda bias ditentukan
oleh hasil kali tanda β₂ dan δ, dan inilah mekanisme matematis di balik
paradoks Simpson yang disinggung pada artikel pertama: ketika variabel
pengganggu diabaikan, hubungan agregat dapat berbalik arah.
Beberapa
pelajaran untuk praktik:
•
Koefisien regresi adalah ukuran asosiasi bersyarat, bukan efek kausal. Interpretasi kausal memerlukan (A3) yang
dibenarkan oleh desain (misalnya randomisasi) atau oleh asumsi struktural yang
eksplisit (misalnya kerangka diagram kausal, Pearl, 2009).
•
Menambah kovariat tidak selalu aman.
Mengendalikan collider (variabel yang
dipengaruhi oleh baik perlakuan maupun hasil) justru menimbulkan bias seleksi.
Pemilihan kovariat harus didasarkan pada struktur kausal, bukan pada
peningkatan R².
•
Galat pengukuran pada regresor
menyebabkan atenuasi: bila x* diamati sebagai x = x* + w dengan w tak
berkorelasi, kemiringan OLS menyusut ke β·λ dengan λ = σ²_x*/(σ²_x* + σ²_w)
< 1, sehingga efek tampak lebih lemah daripada sebenarnya.
11. Implikasi bagi Praktik
Sains Data
11.1 Inferensi dan prediksi
adalah dua tujuan berbeda
Untuk inferensi,
yang dipentingkan adalah kebenaran spesifikasi, galat baku yang valid, dan
interpretasi koefisien. Untuk prediksi, yang dipentingkan adalah galat luar
sampel, dan model yang “salah” tetapi stabil sering lebih baik. Kriteria
seleksi mencerminkan perbedaan itu: uji t dan F bertanya apakah suatu koefisien
berbeda dari nol, AIC dan BIC memperkirakan kualitas relatif dengan penalti
kompleksitas, sedangkan validasi silang secara langsung mengukur galat
prediktif.
Ketiga
pertanyaan tersebut dapat memberi jawaban berbeda pada data yang sama. Pada
contoh Bagian 5 (n = 5), dengan model kemungkinan Gaussian dan σ² ikut ditaksir
(k = 3 parameter untuk model dengan kemiringan, k = 2 untuk model
hanya-konstanta): AIC memilih model dengan kemiringan (selisih sekitar 2,6),
BIC juga (selisih sekitar 3,0), dan PRESS pun memilihnya (7,28 dibanding 9,38
untuk model hanya-konstanta). Sebaliknya, uji t pada β₁ (nilai-p antara 0,10
dan 0,20) tidak menolak H₀, dan AIC terkoreksi sampel kecil (AICc) memilih
model hanya-konstanta (10,9 dibanding 26,3). Tidak ada kontradiksi:
kriteria-kriteria itu menjawab pertanyaan berbeda, dan pada n = 5 tidak satu
pun dapat diandalkan. Contoh ini lebih berguna sebagai peringatan daripada
sebagai petunjuk model.
11.2 Kebocoran data dan jebakan
prosedur
Semua langkah
yang memanfaatkan y (seleksi fitur, penentuan λ, transformasi yang dipelajari
dari data) harus berada di dalam
lipatan validasi silang, bukan sebelumnya. Bila tidak, galat luar sampel akan
terlalu optimistis, mengulang persis pola selisih PRESS dan SSE pada Bagian
7.2. Hal yang sama berlaku pada eksplorasi bebas atas banyak spesifikasi model
(forking paths): jumlah spesifikasi
yang dicoba menggelembungkan galat tipe I secara efektif, sebagaimana dibahas
untuk perbandingan berganda pada artikel kedua.
11.3 Standar pelaporan
Laporan regresi
yang baik memuat: estimand yang ingin dijawab (asosiasi, prediksi, atau efek
kausal); spesifikasi model dan alasan pemilihannya; koefisien dengan interval
kepercayaan, bukan hanya bintang signifikansi; ukuran efek dalam satuan
bermakna; galat baku yang sesuai dengan struktur data (robust atau
berkelompok); diagnostik dan analisis sensitivitas; serta kinerja luar sampel
bila tujuannya prediksi. Satu pertanyaan yang layak diajukan pada setiap
analisis: asumsi mana yang paling mungkin
dilanggar, dan seberapa besar kesimpulan akan berubah bila ia dilanggar?
12. Kesimpulan
Regresi linear
dapat dipahami sebagai satu bangunan matematis yang utuh. Penaksir OLS adalah
proyeksi ortogonal pada ruang kolom X; dari struktur proyeksi itu mengalir
ketaktakbiasan, rumus varians, teorema Gauss–Markov, distribusi eksak t dan F,
serta penjelasan geometris bagi derajat kebebasan n − p. Mean sampel, objek
paling awal dalam seri ini, adalah kasus ketika X hanyalah vektor satu.
Di atas fondasi
tersebut berdiri lapisan-lapisan lanjutan. Aspek numerik (SVD, bilangan
kondisi) menjelaskan mengapa multikolinearitas merusak presisi dan mengapa
persamaan normal tidak boleh dibalik begitu saja. Diagnostik berbasis leverage
dan pengaruh menunjukkan bahwa satu titik dapat mendikte garis. Regularisasi
mengubah ketakbiasan dari tujuan menjadi pilihan, dengan imbalan MSE yang lebih
rendah. Tafsir kemungkinan maksimum mengungkap bahwa memilih kerugian kuadrat
atau absolut sama dengan memilih asumsi tentang galat. Dan analisis bias
variabel terabaikan menggarisbawahi bahwa matematika yang paling rapi pun tidak
menggantikan pertanyaan tentang bagaimana data dihasilkan.
Bagi praktisi sains data, pesan akhirnya konsisten dengan seri ini: setiap angka dalam keluaran regresi adalah realisasi dari suatu distribusi sampling, dan setiap tafsir bergantung pada asumsi yang dapat diperiksa sebagian saja. Memahami matematika di balik keluaran itu memungkinkan kita membedakan antara apa yang dikatakan data dan apa yang hanya dikatakan model.
Daftar Pustaka
- Akaike, H. (1974). A new look at the statistical model identification. IEEE Transactions on Automatic Control, 19(6), 716–723.
- Belkin, M., Hsu, D., Ma, S., & Mandal, S. (2019). Reconciling modern machine-learning practice and the classical bias–variance trade-off. Proceedings of the National Academy of Sciences, 116(32), 15849–15854.
- Cook, R. D. (1977). Detection of influential observation in linear regression. Technometrics, 19(1), 15–18.
- Frisch, R., & Waugh, F. V. (1933). Partial time regressions as compared with individual trends. Econometrica, 1(4), 387–401.
- Golub, G. H., & Van Loan, C. F. (2013). Matrix Computations (4th ed.). Johns Hopkins University Press.
- Hastie, T., Tibshirani, R., & Friedman, J. (2009). The Elements of Statistical Learning (2nd ed.). Springer.
- Hoerl, A. E., & Kennard, R. W. (1970). Ridge regression: Biased estimation for nonorthogonal problems. Technometrics, 12(1), 55–67.
- Huber, P. J. (1964). Robust estimation of a location parameter. The Annals of Mathematical Statistics, 35(1), 73–101.
- James, W., & Stein, C. (1961). Estimation with quadratic loss. Proceedings of the Fourth Berkeley Symposium on Mathematical Statistics and Probability, 1, 361–379.
- Koenker, R., & Bassett, G. (1978). Regression quantiles. Econometrica, 46(1), 33–50.
- Lovell, M. C. (1963). Seasonal adjustment of economic time series and multiple regression analysis. Journal of the American Statistical Association, 58(304), 993–1010.
- MacKinnon, J. G., & White, H. (1985). Some heteroskedasticity-consistent covariance matrix estimators with improved finite sample properties. Journal of Econometrics, 29(3), 305–325.
- Pearl, J. (2009). Causality: Models, Reasoning, and Inference (2nd ed.). Cambridge University Press.
- Schwarz, G. (1978). Estimating the dimension of a model. The Annals of Statistics, 6(2), 461–464.
- Seber, G. A. F., & Lee, A. J. (2003). Linear Regression Analysis (2nd ed.). Wiley.
- Tibshirani, R. (1996). Regression shrinkage and selection via the lasso. Journal of the Royal Statistical Society: Series B, 58(1), 267–288.
- White, H. (1980). A heteroskedasticity-consistent covariance matrix estimator and a direct test for heteroskedasticity. Econometrica, 48(4), 817–838.

Komentar
Posting Komentar